Demo 25 November dan Aksi Tarik Uang di Bank akan Dilakukan Umat Islam, Berpotensi Lengserkan Jokowi
Mercusuar islam- Demo 25 November 2016 dan aksi tarik uang di bank
(rush money) dalam jumlah besar, berpotensi melengserkan Jokowi dari
kursi Presiden RI. Aksi ini merupakan lanjutan dari demo 4 November 2016
yang menuntut agar Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ditetapkan menjadi
tersangka kasus penistaan agama.
Demo 25 November 2016 dan aksi tarik uang di bank pada hari yang sama
akan dilakukan mayoritas umat Islam di Indonesia jika tuntutan mereka
tak dipenuhi pemerintah dan polri.

Seruan tarik uang di bank 25 November 2016 sudah digaungkan sejumlah
tokoh agama di media sosial (medsos) dan aplikasi WhatsApp. Aksi tarik
uang di bank pada hari yang sama diyakini mampu menggoyahkan
perekonomian Indonesia.
Target Rush Money 25 November yakni menguras cadangan uang di bank
sebesar Rp 100 triliun. Untuk mencapai target tersebut, para pengusaha
muslim diminta menarik uangnya di bank dalam jumlah besar. Sedangkan
masyarakat menengah ke bawah dianjurkan menarik uangnya di bank Rp 2
juta per orang.
Aksi tarik uang di bank secara besar-besaran ini akan menimbulkan dampak
buruk bagi stabilitas ekonomi, sosial, dan politik di Indonesia.
“Rush Money akan menimbulkan tiga aspek, yakni ekonomi, sosial, dan
politik. Akan timbul kekacauan dalam sistem perbankan. Bank akan
kekurangan uang, sehingga menimbulkan gejolak ekonomi. Bank Indonesia
(BI) akan kewalahan dan tidak mungkin mendistribusikan uang dalam jumlah
banyak pada waktu bersamaan,” ujar Andy kepada pojoksatu.id, Senin
(14/11/16).
Menurut Andy, gerakan Rush Money akan menimbulkan keresahan di
masyarakat karena bank akan kewalahan memenuhi permintaan masyarakat
yang begitu tinggi.
“Ini akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah.
Kasus Soeharto bisa terulang. Kasus kerusuhan Mei membuat masyarakat
ketakutan. Saya juga mengalami, antre di bank,” imbuh Andy.
Pendapat serupa disampaikan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
(ICMI) Jimly Asshiddiqie. Jimly menduga demo 25 November 2016 memiliki
agenda untuk menjatuhkan Presiden Jokowi.
Dikatakan Jimly, demo 25 November bukan lagi menuntut proses hukum atas
kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Gubernur DKI Jakarta
nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Aksi itu sudah mengarah ke
pemakzulan Presiden Jokowi.
“Saya sebagai Ketua ICMI tidak rela jika umat Islam terjebak dalam adu
domba untuk tujuan yang tidak konstitusional,” tegas Jimly.
Jimly mengatakan, masyarakat memang tidak bisa dilarang melakukan aksi
unjuk rasa. Namun Jimly menyayangkan jika demo 25 November ditunggangi
pihak-pihak tertentu.
Jimly 000kepada umat Islam agar tidak lagi melakukan aksi
demonstrasi karena berpotensi menyimpang dan menimbulkan gejolak di
masyarakat.
“Kalaupun tetap mau demo, sebaiknya jangan lebih besar dari yang lalu
agar tidak dicurigai punya agenda untuk menjatuhkan presiden yang sah,”
tandas Jimly.
sumber: posmetro.info